About

KEBERHASILAN ITU DIPEROLEH KETIKA SESEORANG MEMPUNYAI KEMAUAN

Senin, 15 April 2013

Revisi Tugas 6 Supply Chain Management (SCM)



Supply Chain Management (SCM)


Supply Chain Management (SCM) adalah pengelolaan jaringan yang saling berhubungan bisnis yang terlibat dalam penyediaan paket produk dan layanan yang dibutuhkan oleh konsumen akhir dalam rantai pasokan mulai daei produsen ke konsumen.

Menurut Stevens (1989.p.3)
  
Supply Chain Managament adalah tujuan dari pengelolaan rantai pasokan untuk menyinkronkan kebutuhan pelanggan dengan aliran material dari pemasok untuk mempengaruhi keseimbangan antara apa yang sering dilihat sebagai tujuan yang saling bertentangan dari layanan pelanggan yang tinggi, manajemen persediaan rendah dan rendah unit cost.

Menurut Monczka and colleagues (1998. p. 78)
 
Artinya Supply Chain Management adalah konsep utamanya bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengelola aliran, sourcing, dan kontrol bahan menggunakan perspektif sistem total di beberapa fungsi dan beberapa pemasok.


Pengertian  Supply Chain Management menurut beberapa ahli antara lain:
ƒ
Supply Chain Management menurut Chopra dan Meindl (2004,p4) adalah sebuah Supply  Chain Management terdiri dari pelibatan setiap mata rantai persediaan, baik itu secara  langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi permintaan pelanggan.
ƒ
Supply Chain Management adalah koordinasi dari semua aktivitas supply  pada suatu  organisasi dari  supplier  dan partner ke consumennya. (Chaffey 2002,pXIV).
ƒ
Sedangkan menurut Kalakota ( 2001,p274)  Supply Chain Management merupakan  sebuah payung proses dimana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen. Dari sudut struktural, sebuah Supply Chain merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan dimana organisasi mempertahankan dengan partner bisnisnya untuk mendapatkan sumber, produksi dan menyampaikannya kepada konsumen.

2.      Fase setelah perang dunia II, ilmu dan pengetahuan tentang logistik yang awalnya diterapkan dalam dunia militer, mulai merambah masuk dan diterapkan di dalam dunia usaha dengan orientasi meraih lebih banyak konsumen.
  • Pada tahun 1970an logistik menjadi bagian dalam perusahaan atau organisasi yang berfungsi sebagai penjamin ketersediaan material dan barang untuk kelangsungan hidup perusahaan.
  • Tahun 1980an fungsi logistik telah berubah orientasi menjadi sebuah aliran proses. Pada fase ini, dunia   usaha telah menjadikan logistik sebagai bagian penting dalam sistem. Sedangkan para pakar dan akademisi menjadikan logistik sebagai ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan konsep Supply Chain Management.
  • Era 1990an untuk pertama kalinya konsep silang usaha logistik (seperti Just In Time) dan Supply Chain Management didukung dengan kemutakhiran Teknologi Informasi.
  • Abad 21 merupakan era persaingan global. Kerjasama usaha merupakan faktor kunci keberhasilan dalam persaingan global, maka muncul Strategic Supply Chain Management. Strategi SCM yang tepat diyakini mampu membuat perusahaan atau organisasi memenangkan persaingan.
Dari masa ke masa seiring dengan perkembangan logistik, konsep pergudangan pun mengalami perubahan orientasi atau fungsi, tidak lagi hanya sekedar tempat penyimpanan material dan produk, akan tetapi lebih dari sebuah pergerakan atau aliran material dan produk dari produsen ke konsumen.


3.      upstream (hulu) supply chain

meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan  asal dari material. Contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman. Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
Segmen Rantai Suplai Hilir / Downstream supply chain management
Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.
Contoh upstream dan Downstream supply chain management : pabrik pembuat kemeja adalah 2 bagian supply chain yang menghubungkan upstream (melalui pengusaha kain kepada pengusaha serat/kapas) dan downstream (melalui distributor dan retail pada pelanggan akhir).

Pull proses ini merupakan permintaan dari customer (demand) sedangkan Push proses merupakan peramalan demand untuk mengantisipasi permintaan customer yang berubah.
Contoh perusahaan yang menerapkan pull dan push supply chain adalah perusahaan FORD AUSTRALIA

·         Chopra & Meindl (2001) menyatakan bahwa dalam SCM terdapat empat penggerak (driver), yaitu persediaan, transportasi, fasilitas, dan informasi.Dari keempat penggerak tersebut, informasi merupakan penggerak utama. Informasi sangatmempengaruhi ketiga penggerak lainnya. Peranan informasi dalam SCM dipengaruhi oleh teknologi informasi yang digunakan. Teknologi  informasi ini mempunyai peranan penting dalam dalam mendukung kinerja SCM.

Peranan Teknologi Informasi pada masing-masing proses bisnis dalam SCM tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Peranan dalam Manajemen HubunganPelanggan Dalam SCM, proses manajemen hubungan
pelanggan (customer relationship management/CRM) bertujuan untuk menyediakan struktur dalam mengembangkan dan memelihara hubungan dengan pelanggan. Berbagai teknologi informasi digunakandalam implementasi CRM. Sebagai contoh, aplikasi Sales Force Automation (SFA) dapat digunakanuntuk mengotomatiskan hubungan antara parapenjual dan pembeli melalui penyediaan informasiproduk dan harga (Copra & Meindl, 2001). Sistem tersebut juga memungkinkan informasi pelanggandan produk secara rinci dan real time.

2.      Peranan dalam Manajemen PelayananPelangganUntuk dapat menjalankan manajemen
pelayanan pelanggan (customer service management/CSM) secara baik, teknologi informasi yang digunakan harus handal. Teknologi informasi ini harus dapat menghimpun secara real time mengenai berbagai informasi yang diperlukan pelanggan, seperti ketersediaan produk, waktu pengiriman, dan status pesanan.Manajemen pelayanan pelanggan merupakan titik kunci hubungan untuk mengadministrasikan kesepakatan produk atau jasa. Pelayanan pelanggan menyediakan sumber tunggal untuk berbagai informasi yang dibutuhkan pelanggan. Dengan teknologi informasi, perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan tingkat kepastian yang tinggi.

3.       Peranan dalam Manajemen Permintaan Manajemen permintaan (demand management) mencakup proses-proses yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pelanggan dengan kemampuan pasokan perusahaan.Sistem manajemen permintaan yang baik menggunakan data point-of-sale dari pelanggan utama untuk mengurangi ketidakpastian (uncertainty) dan menyediakan aliran yang efisien sepanjang rantai pasok. Dalam manajemen permintaan tersebut, penentuan kebijakan persediaan yang optimal memerlukan informasi yang mencakup pola permintaan biaya penanganan persediaan, biaya akibat kekurangan persediaan, dan biaya pemesanan. Dalam manajemen permintaan pada level perusahaan, teknologi informasi digunakan untuk melakukan sinkronisasi perencanaan permintaan (Croxton et al., 2002). Sinkronisasi dilakukan antara hasil peramalan, kemampuan manufaktur, kemampuan pasokan, dan kemampuan distribusi.


6.      Porter memberikan pemahaman rantai nilai sebagai sebuah kombinasi dari sembilan aktivitas operasi penambahan nilai umum dalam sebuah perusahaan. Fokus utama dalam rantai nilai terletak pada keuntungan yang ditambahkan kepada konsumen, proses saling tergantung yang menghasilkan nilai, dan permintaan yang dihasilkan serta arus dana yang dibuat.
            Rantai nilai menggambarkan berbagai kegiatan yang diperlukan untuk membawa produk atau jasa dari konsepsi, melalui berbagai tahapan produksi (melibatkan kombinasi transformasi fisik dan masukan dari berbagai produsen jasa), pengiriman pada konsumen akhir, dan pembuangan akhir setelah digunakan.
Model rantai nilai merupakan alat analisis yang berguna untuk mendefinisikan kompetensi inti perusahaan di mana perusahaan dapat mengejar keunggulan kompetitif sebagai berikut:
• Keunggulan Biaya: dengan lebih baik memahami biaya dan menekannya keluar dariaktivitas penambahan nilai.
• Differensiasi: dengan berfokus pada aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan kompetensi inti dan kemampuan untuk melakukannya lebih baik daripada pesaing.
Konsep Analisis Rantai Nilai
            Aktivitas nilai dapat dicabangkan menjadi dua tipe yang luas, aktivitas primer dan aktivitas pendukung. Aktivitas primer meliputi penciptaan fisik produk dan penjualannya dan perpindahan kepada pembeli serta bantuan pasca penjualan. Aktivitas pendukung mendukung aktivitas primer dan satu sama lain dengan memberikan input pembelian, teknologi, sumber daya manusia, dan fungsi berbagai perusahaan secara luas.

hubungan antara Porter’s Value Chain dengan pemahaman anda terhadap penerapan TI pada SCM
dimana dengan adanya teknologi lebih mempermudah proses bisnis dalam perusahaan. Porter menjelaskan tentang mengenai 3 tipe aktivitas. Dalam setiap kategori aktivitas primer dan pendukung, terdapat tiga tipe aktivitas yang memainkan peranan yang berbeda dalam keunggulan kompetitif:
1) Langsung: aktivitas yang secara langsung terlibat dalam menciptakan nilai kepada pembeli, seperti perakitan, bagian mesin, operasi tenaga penjualan, periklanan, desain produk, rekrutmen, dll.
2) Tidak Langsung: aktivitas yang memungkinkan untuk melakukan aktivitas langsung secara terus menerus, seperti pemeliharaan, penjadwalan pengoperasian fasilitas, tenaga administrasi penjualan, administrasi penelitian, catatan vendor.
3) Jaminan Kualitas: aktivitas yang menjamin kualitas kegiatan lain, seperti pemantauan, inspeksi, pengujian, meninjau, memeriksa, menyesuaikan dan pengerjaan ulang. Jamina kualitas tidak identik dengan manajemen mutu, karena banyak aktivitas nilai memberikan kontribusi terhadap kualitas.
Dan Pada TI pada SCM. TI memiliki fungsi :
1.      teknologi informasi digunakandalam implementasi CRM. Sebagai contoh, aplikasi Sales Force Automation (SFA) dapat digunakanuntuk mengotomatiskan hubungan antara parapenjual dan pembeli melalui penyediaan informasiproduk dan harga (Copra & Meindl, 2001). Sistem tersebut juga memungkinkan informasi pelanggandan produk secara rinci dan real time.
2.      teknologi informasi digunakan untuk melakukan sinkronisasi perencanaan permintaan (Croxton et al., 2002). Sinkronisasi dilakukan antara hasil peramalan, kemampuan manufaktur, kemampuan pasokan, dan kemampuan distribusi.

3.      Dengan teknologi informasi, perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan tingkat kepastian yang tinggi.

Dari sini lah kita dapat melihat bawah ada hubungan antara TI  pada SCM dan porter.





0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More