Supply Chain Management (SCM)
Supply Chain Management (SCM) adalah pengelolaan jaringan yang saling berhubungan bisnis yang terlibat dalam penyediaan paket produk
dan layanan yang dibutuhkan oleh konsumen
akhir dalam rantai pasokan mulai daei produsen ke konsumen.
Menurut Stevens (1989.p.3)
Supply Chain Managament adalah tujuan dari
pengelolaan rantai pasokan untuk menyinkronkan kebutuhan pelanggan dengan aliran
material dari pemasok untuk mempengaruhi keseimbangan
antara apa yang sering dilihat sebagai tujuan yang saling
bertentangan dari layanan
pelanggan yang tinggi, manajemen persediaan
rendah dan rendah unit cost.
Menurut Monczka and colleagues (1998. p. 78)
Artinya
Supply Chain Management adalah konsep utamanya bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengelola aliran, sourcing,
dan kontrol bahan menggunakan perspektif sistem
total di beberapa fungsi dan beberapa pemasok.
Pengertian Supply Chain Management menurut beberapa ahli
antara lain:
Supply Chain
Management menurut Chopra dan Meindl
(2004,p4) adalah sebuah Supply Chain
Management terdiri dari pelibatan setiap mata rantai persediaan, baik itu
secara langsung maupun tidak langsung
untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Supply Chain
Management adalah koordinasi dari semua aktivitas supply pada suatu organisasi dari supplier dan partner ke consumennya. (Chaffey 2002,pXIV).
Sedangkan menurut Kalakota ( 2001,p274) Supply
Chain Management merupakan sebuah payung
proses dimana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen. Dari sudut
struktural, sebuah Supply Chain merujuk kepada jaringan yang rumit dari
hubungan dimana organisasi mempertahankan dengan partner bisnisnya untuk
mendapatkan sumber, produksi dan menyampaikannya kepada konsumen.
2. Fase
setelah perang dunia II, ilmu dan pengetahuan tentang logistik yang awalnya
diterapkan dalam dunia militer, mulai merambah masuk dan diterapkan di dalam
dunia usaha dengan orientasi meraih lebih banyak konsumen.
- Pada tahun 1970an logistik menjadi bagian dalam perusahaan atau organisasi yang berfungsi sebagai penjamin ketersediaan material dan barang untuk kelangsungan hidup perusahaan.
- Tahun 1980an fungsi logistik telah berubah orientasi menjadi sebuah aliran proses. Pada fase ini, dunia usaha telah menjadikan logistik sebagai bagian penting dalam sistem. Sedangkan para pakar dan akademisi menjadikan logistik sebagai ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan konsep Supply Chain Management.
- Era 1990an untuk pertama kalinya konsep silang usaha logistik (seperti Just In Time) dan Supply Chain Management didukung dengan kemutakhiran Teknologi Informasi.
- Abad 21 merupakan era persaingan global. Kerjasama usaha merupakan faktor kunci keberhasilan dalam persaingan global, maka muncul Strategic Supply Chain Management. Strategi SCM yang tepat diyakini mampu membuat perusahaan atau organisasi memenangkan persaingan.
Dari
masa ke masa seiring dengan perkembangan logistik, konsep pergudangan pun
mengalami perubahan orientasi atau fungsi, tidak lagi hanya sekedar tempat
penyimpanan material dan produk, akan tetapi lebih dari sebuah pergerakan atau
aliran material dan produk dari produsen ke konsumen.
meliputi
aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur
dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau
kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier).
Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan asal dari material. Contohnya bijih tambang,
pertumbuhan tanaman. Di
dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
Segmen Rantai Suplai Hilir / Downstream supply
chain management
Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua
aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam
downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan,
transportasi, dan after-sales-service.
Contoh upstream dan
Downstream supply chain management : pabrik
pembuat kemeja adalah 2 bagian supply chain yang menghubungkan upstream
(melalui pengusaha kain kepada pengusaha serat/kapas) dan downstream (melalui
distributor dan retail pada pelanggan akhir).
Pull
proses ini merupakan permintaan dari customer (demand) sedangkan Push proses
merupakan peramalan demand untuk mengantisipasi permintaan customer yang
berubah.
Contoh
perusahaan yang menerapkan pull dan push supply chain adalah perusahaan
FORD AUSTRALIA
·
Chopra & Meindl (2001) menyatakan
bahwa dalam SCM terdapat empat penggerak (driver), yaitu persediaan,
transportasi, fasilitas, dan informasi.Dari keempat penggerak tersebut,
informasi merupakan penggerak utama. Informasi sangatmempengaruhi ketiga
penggerak lainnya. Peranan informasi dalam SCM dipengaruhi oleh teknologi
informasi yang digunakan. Teknologi
informasi ini mempunyai peranan penting dalam dalam mendukung kinerja
SCM.
Peranan Teknologi Informasi pada masing-masing proses bisnis dalam SCM
tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Peranan dalam Manajemen HubunganPelanggan
Dalam SCM, proses manajemen hubungan
pelanggan (customer relationship management/CRM) bertujuan untuk
menyediakan struktur dalam mengembangkan dan memelihara hubungan dengan
pelanggan. Berbagai teknologi informasi digunakandalam implementasi CRM.
Sebagai contoh, aplikasi Sales Force Automation (SFA) dapat digunakanuntuk
mengotomatiskan hubungan antara parapenjual dan pembeli melalui penyediaan
informasiproduk dan harga (Copra & Meindl, 2001). Sistem tersebut juga
memungkinkan informasi pelanggandan produk secara rinci dan real time.
2.
Peranan dalam Manajemen
PelayananPelangganUntuk dapat menjalankan manajemen
pelayanan pelanggan (customer service management/CSM) secara baik,
teknologi informasi yang digunakan harus handal. Teknologi informasi ini harus
dapat menghimpun secara real time mengenai berbagai informasi yang diperlukan
pelanggan, seperti ketersediaan produk, waktu pengiriman, dan status
pesanan.Manajemen pelayanan pelanggan merupakan titik kunci hubungan untuk
mengadministrasikan kesepakatan produk atau jasa. Pelayanan pelanggan
menyediakan sumber tunggal untuk berbagai informasi yang dibutuhkan pelanggan.
Dengan teknologi informasi, perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada
pelanggan dengan tingkat kepastian yang tinggi.
3.
Peranan dalam Manajemen Permintaan Manajemen
permintaan (demand management) mencakup proses-proses yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara
kebutuhan pelanggan dengan kemampuan pasokan perusahaan.Sistem manajemen
permintaan yang baik menggunakan data point-of-sale dari pelanggan utama untuk
mengurangi ketidakpastian (uncertainty) dan menyediakan aliran yang efisien
sepanjang rantai pasok. Dalam manajemen permintaan tersebut, penentuan
kebijakan persediaan yang optimal memerlukan informasi yang mencakup pola
permintaan biaya penanganan persediaan, biaya akibat kekurangan persediaan, dan
biaya pemesanan. Dalam manajemen permintaan pada level perusahaan, teknologi
informasi digunakan untuk melakukan sinkronisasi perencanaan permintaan
(Croxton et al., 2002). Sinkronisasi dilakukan antara hasil peramalan,
kemampuan manufaktur, kemampuan pasokan, dan kemampuan distribusi.
6.
Porter memberikan pemahaman rantai nilai sebagai sebuah kombinasi
dari sembilan aktivitas operasi penambahan nilai umum dalam sebuah perusahaan.
Fokus utama dalam rantai nilai terletak pada keuntungan yang ditambahkan kepada
konsumen, proses saling tergantung yang menghasilkan nilai, dan permintaan yang
dihasilkan serta arus dana yang dibuat.
Rantai
nilai menggambarkan berbagai kegiatan yang diperlukan untuk membawa produk atau
jasa dari konsepsi, melalui berbagai tahapan produksi (melibatkan kombinasi
transformasi fisik dan masukan dari berbagai produsen jasa), pengiriman pada
konsumen akhir, dan pembuangan akhir setelah digunakan.
Model rantai nilai
merupakan alat analisis yang berguna untuk mendefinisikan kompetensi inti
perusahaan di mana perusahaan dapat mengejar keunggulan kompetitif sebagai
berikut:
• Keunggulan
Biaya: dengan lebih baik memahami biaya dan menekannya keluar dariaktivitas penambahan
nilai.
•
Differensiasi: dengan berfokus pada aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan
kompetensi inti dan kemampuan untuk melakukannya lebih baik daripada pesaing.
Konsep Analisis
Rantai Nilai
Aktivitas
nilai dapat dicabangkan menjadi dua tipe yang luas, aktivitas primer dan
aktivitas pendukung. Aktivitas primer meliputi penciptaan fisik produk dan
penjualannya dan perpindahan kepada pembeli serta bantuan pasca penjualan.
Aktivitas pendukung mendukung aktivitas primer dan satu sama lain dengan
memberikan input pembelian, teknologi, sumber daya manusia, dan fungsi berbagai
perusahaan secara luas.
hubungan
antara Porter’s Value Chain dengan pemahaman anda terhadap
penerapan TI pada SCM
dimana dengan
adanya teknologi lebih mempermudah proses bisnis dalam perusahaan. Porter
menjelaskan tentang mengenai 3 tipe aktivitas. Dalam setiap kategori aktivitas
primer dan pendukung, terdapat tiga tipe aktivitas yang memainkan peranan yang
berbeda dalam keunggulan kompetitif:
1) Langsung:
aktivitas yang secara langsung terlibat dalam menciptakan nilai kepada pembeli,
seperti perakitan, bagian mesin, operasi tenaga penjualan, periklanan, desain
produk, rekrutmen, dll.
2) Tidak
Langsung: aktivitas yang memungkinkan untuk melakukan aktivitas langsung secara
terus menerus, seperti pemeliharaan, penjadwalan pengoperasian fasilitas,
tenaga administrasi penjualan, administrasi penelitian, catatan vendor.
3) Jaminan
Kualitas: aktivitas yang menjamin kualitas kegiatan lain, seperti pemantauan,
inspeksi, pengujian, meninjau, memeriksa, menyesuaikan dan pengerjaan ulang.
Jamina kualitas tidak identik dengan manajemen mutu, karena banyak aktivitas
nilai memberikan kontribusi terhadap kualitas.
Dan Pada TI
pada SCM. TI memiliki fungsi :
1.
teknologi informasi digunakandalam
implementasi CRM. Sebagai contoh, aplikasi Sales Force Automation (SFA) dapat
digunakanuntuk mengotomatiskan hubungan antara parapenjual dan pembeli melalui
penyediaan informasiproduk dan harga (Copra & Meindl, 2001). Sistem
tersebut juga memungkinkan informasi pelanggandan produk secara rinci dan real
time.
2.
teknologi informasi digunakan untuk
melakukan sinkronisasi perencanaan permintaan (Croxton et al., 2002).
Sinkronisasi dilakukan antara hasil peramalan, kemampuan manufaktur, kemampuan
pasokan, dan kemampuan distribusi.
3.
Dengan teknologi informasi, perusahaan
dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan tingkat kepastian yang
tinggi.
Dari sini lah kita dapat
melihat bawah ada hubungan antara TI
pada SCM dan porter.




0 komentar:
Posting Komentar