Model Bisnis
Model bisnis menggambarkan pemikiran tentang bagaimana sebuah organisasi
menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai-nilai baik itu ekonomi, sosial, ataupun
bentuk-bentuk nilai lainnya. Model bisnis adalah kombinasi optimal
komponen-komponen yang membuat perusahaan dapat menghasilkan laba dan terus
bertahan.
Johnson, Christensen dan Kagerman (2008) dalam majalah Harvard
Business Review mengatakan bahwa sebuah model bisnis terdiri dari empat
komponen:
- proposisi nilai bagi konsumen,
- formula laba,
- sumber daya kunci, dan
- kegiatan-kegiatan atau proses-proses kunci.
Sedangkan
Osterwalder (2010) memperkenalkan kanvas model bisnisnya yang terdiri dari
sembilan komponen:
- customer segments,
- channels,
- customer relationships
- Value propositios,
- key activities,
- key resources,
- partnership networks,
- cost structures, dan
- revenue streams.
Berapapun
komponen model bisnis perusahaan, model bisnis yang terbukti dapat memberikan
laba setinggi langit saat ini, belum tentu akan bertahan selamanya. Boleh
percaya boleh tidak, maskapai penerbangan Merpati Nusantara pernah merajai
industri penerbangan di Indonesia pada tahun 1990an. Dengan masuknya banyak
pesaing, maskapai ini tidak mampu mempertahankan diri. Toko musik Aquarius
sebagai jejaring toko kaset terbesar di Indonesia tak tahan mendapat gempuran
pembajakan dan perkembangan teknologi yang memudahkan mengunduh lagu dari
internet. Satu demi satu toko music Aquarius pun tutup. Koran dan majalah semakin
bertambah ragamnya, namun tiras tidak naik signifikan. Hampir tidak ada media
cetak yang tidak didampingi oleh versi on-linenya yang tidak sama persis dan
tidak hanya bersifat sebagai pelengkap. Selera dan kebutuhan konsumen memang
bisa berubah, sehingga proposisi nilai perusahaan saat ini tidak lagi dapat
memenuhi kebutuhan konsumen.
5
Kekuatan Utama Perusahaan/Organisasi (Porter’s
5 Forces)
a.
Ancaman
masuk pendatang baru
b.
Ancaman
pesaing
c.
Ancaman
produk pengganti
d.
Daya
tawar pemasok
e.
Daya
tawar konsumen
Pengaruh
TI pada setiap kekuatan yang ada pada Porter’s 5 Forces dan Pengaplikasiannya (Contoh : PT HM
SAMPOERNA Tbk.)
1. Ancaman masuk pendatang baru . Masuknya
perusahaan pendatang baru akan menimbulkan sejumlah implikasi bagi perusahaan
yang sudah ada, misalnya kapasitas yang bertambah, terjadinya perebutan pangsa
pasar (Marketshare). Serta perebutan
sumber daya produksi yang terbatas. Kondisi seperti ini menimbulkan ancaman
bagi perusahaan yang telah ada. Ada beberapa factor yang bisa menghambat
masuknya pendatang baru ke dalam suatu industri yang sering di sebut hambatan
masuk yaitu :
-
Skala
ekonomi
-
Diferensiasi
produk
-
Kecukupan
modal
-
Biaya
peralihan
-
Akses ke
saluran distribusi
-
Karakteristik
produk
-
Biaya
tetap yang besar
-
Kapasitas
-
Besar
hambatan keluar
Contohnya,
dengan adanya pendatang baru (dalam hal ini perusahaan baru yang memproduksi
rokok), maka kapasitas pasar akan bertambah sehingga produktivitas pun semakin
berkurang.
2.
Ancaman
pesaing. Pesaing di antara perusahaan yang ada. Faktor
penentu persaingan di antara perusahaan yang ada adlah pertumbuhan industry,
biaya tetap, kelebihan kapasitas, diferensial produk, identitas merek, biaya beralih
pemasok, konsentrasi dan keseimbangan, dan hambatan keluar.
Contohnya : Setiap
harinya pesaing PT HM SAMPOERNA Tbk semakin banyak. Oleh karena itulah,
perusahaaan ini harus meningkatkan differensiasi produknya dimana fungsinya
untuk membedakan produknya dari produk pesaing dalam suatu sifat yang
membuatnya lebih diinginkan. Beberapa produk dibedakan dari produk pesaing oleh
kualitasnya. Misalnya PT HM SAMPOERNA Tbk menjadi sebuah perusahaan penghasil
rokok yang lebih disukai di seluruh negara karena rokok spesialnya, meskipun
harganya tinggi. PT HM SAMPOERNA Tbk menggunakan straregi pemasaran yang
mengkhususkan pada seleksi bahan produksi (tembakau) yang berkualitas tingi
dengan penggunaan teknologi yang lebih unggul. Jadi, pada umumnya semua perusahaan
mencari beberapa jenis keunggulan kompetitif yang dapat membedakan produk
mereka dan produk yang lainnya.
3.
Ancaman
produk pengganti. Perusahaan – perusahaan dalam suatu industri
bersaing pula dengan produk pengganti. Walaupun karakteristiknya berbeda,
barang subtitusi dapat memberikan fungsi atau jasa serupa. Ancaman produksi
subtitusi menjadi kuat bilamana konsumen di hadapkan dengan sedikitnya switching cost dan jika produk subtitusi
mempunyai harga lebih murah dan kualitasnya sama.
Misalnya
produk dari PT HM SAMPOERNA Tbk adalah Dji Sam Soe dan Malboro. Kemudian untuk
meningkatkan produksi, PT HM SAMPOERNA Tbk membuat inovasi baru dengan harga
yang murah tapi dengan kualitas yang sama bagusnya, sebut saja U Mild. Secara
tidak langsung, konsumen lebih berminat pada U Mild yang murah dan berkualitas
tinggi dibanding yang sebelumnya. Oleh karena itulah, PT HM SAMPOERNA Tbk harus
memberikan inovasi juga pada produk-produk sebelumnya ataupun dengan
mempromosikan lebih giat lagi tentang produk tersebut lewat jejaring sosial
ataupun websitenya
4.
Daya
tawar pemasok. Pemasok dapat mempengaruhi industri lewat kemampuan
mereka untuk menaikkan harga atau pengurangan kualitas produk atau servis.
Jadi, dengan diperolehnya kepercayaan konsumen, PT
HM SAMPOERNA Tbk tidak harus berhenti mempromosikan produknya tetapi lebih giat
lagi. Misalnya melalui jejaring sosial ataupun website yang lebih
user-friendly, sehingga lebih dikenal lagi dalam pasar.
5.
Daya
tawar konsumen. Pembeli mampu mempengaruhi perusahaan untuk memotong
harga, untuk meningkatkan mutu dan servis serta mengadukan perusahaan dengan
kompetetitor melalui kekuatan yang mereka miliki.
Misalnya melalui Customer Service,
pelanggan dapat mengadukan segala keluhan terhadap produk PT HM SAMPOERNA Tbk sehingga
dapat menjadi masukan bagi peningkatan produktivitas produknya.
Model-model E-Business yang berhubungan dengan
pasar e-business :
a)
Business to Customer (B2C) : e-shops,
e-malls, e-auctions, buyer aggregators, infomediaries, portaling, manufacturer
model, subscription;
b)
Business to Business (B2B) : e-auctions,
informediaries, e-procurment, e-distribution, portaling, e-marketing, trading
communities, third-party marketplaces, collaboration platforms, value chain
integrators, value chain service providers, affiliates;
c)
Consumer to consumer (C2C) : e-auction,
virtual communities.




0 komentar:
Posting Komentar